JAYAPANGUS WEB

JAYAPANGUS merupakan media komunikasi muda Hindu. diterbitakn sejak akhir januari 2006 oleh KMHD ISI Yogyakarta. hubungi kami di: E-mail: red_jayapangus@yahoo.co.id phone :08175495575

Sunday, August 20, 2006

WAWANCARA LK SURYANI

PERJUANGAN R.A. Kartini yang berlandaskan perjuangan emansipasi ternyata tidak terhenti ketika meninggalnya tokoh nasional ini. Seiring dengan perkembangang zaman, perjuangan Kartini masih hidup di dalam jiwa kaum perempuan Indonesia yang senantiasa mengaktualkan makna emansipasi ini.
Adalah LK Suryani salah seorang tokoh wanita yang sudah cukup terkenal kiprahnya di dunia perjuangan emansipasi perempuan khususnya di Bali. Ini ditunjukkan dengan terpilih menerima penghargaan citra kartini bersama 20 tokoh yang terbukti mampu berkarya dan berprestasi sehingga berdampak positif bagi keluarga, lingkungan, negara, dan bangsanya. Ketika JP untuk pertama kalinya mengubungi beliau melalui pesawat telepon, terdengarlah suara yang lembut penuh ketenangan menyapa dengan sangat bersahaja, bak seorang ibu menyapa anaknya kami merasa didekap dalam kehangatan, mungkin inilah suara kehangatan seorang ibu….Profesor sekaligus dosen Fakultas Kedokteran Universitas Udayana bidang psikiatri ini, ditengah-tengah kesehariannya sebagai seorang ibu rumah tangga, juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Selain sebagai psikiater istri dari Prof. Dr. dr. Tjokorda Alit K, Sp.FK. ini juga dikenal sebagai pengajar meditasi dan aktif dalam aksi demonstrasi sebelum masa reformasi hingga sampai saat ini. Dia juga aktif menulis, baik di majalah ilmiah kedokteran maupun media massa. Untuk mengetahui pandangan dan harapan-harapan tentang emansipasi wanita dari seorang tokoh wanita yang dibesarkan oleh kentalnya budaya Bali ini, berikut JP hadirkan petikan tanya jawab dengan LK Suryani

- Apakah yang kira-kira menjadi penyebab masih sangat sedikitnya wanita Hindu (Bali) yang bisa berkiprah di pentas nasional maupun internasional?

Apakah Cuma perempuan Bali saja yang sedikit berkiprah dipentas nasional atau internasional?
Saya rasa perempuan dan laki-laki Bali sama, sama-sama sedikit berkiprah, selain jumlahnya sedikit dibandingkan jumlah penduduk Indonesia, juga karena keberanian untuk tampil beda, berani menghadapi tantangan, kemampuan ngomong, dan kemampuan untuk bersaing masih kurang. Pendidikan yang diberikan kepada anak hanya mengajarkan hidup, rukun, damai, sehimbang dan selaras serta menjaga hubungan baik. Padahal kehidupan ini seperti di hutan, penuh dengan tantangan, kekerasan dan kekejaman.

- Bagaimana dengan masih kuatnya budaya patriarkhi, apakah menjadi salah satu penghalang bagi wanita untuk mengembangkan diri?

Saya kira tidak… Patriarchat adalah system untuk mengatur kehidupan antara laki-laki dan perempuan agar tidak saling berantakan. Kalau tidak dibuat system apakah Patriarchat atau matriarchat tertentu kalau mereka menikah harus mengemban dua tugas yaitu tugas di pihak suami dan dipihak istri. Sedangkan tugas seseorang tidak hanya untuk keluarga, tetapi juga untuk dirinya dan masyarakat luas.
Sekarang tergantung perempuan itu sendiri, mampukah ia mengembangkan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki untuk menyiasati budaya yang mengatur hidupnya? Tidaklah pantas menyalahkan budaya yang dianggap penghalang di dalam mengembangkan dirinya. Kalau perempuan itu berani, mempunyai kemampuan taktik dan strategi, justru budaya yang dimilikinya mampu mengembangkan dirinya menjadi suatu keunikan yang bisa mengantarkan dirinya menjadi orang yang diperhitungkan.

- Bagaimana pendapat ibu dengan adanya pendapat bahwa emansipasi atau kesetaraan gender ini berakibat pada semakin sedikitnya waktu yang dimiliki wanita (ibu) dalam mendidik anak dan mengurus rumah tangga?

Kalau menggunakan difinisi masyarakat Hindu Bali keseimbangan dan keharmonisan, maka tidak ada istilah kekurangan waktu. Laki-laki dan perempuan akan melakukan tugasnya dalam mendidik dan mengurus rumah tangga sesuai dengan kemampuan dan keadaan rumah tangganya. Kalau ia sebagai istri dan ibu mempunyai kemampuan berjualan dan harus bekerja diluar rumah, sedangkan laki-laki sebagai suami dan bapak hanya mampunyai kemampuan sebagai petani, maka urusan rumah tangga dan mendidik anak akan dikerjakan oleh suaminya. Mereka tidak memperdebatkan ini tugas laki-laki dan ini tugas perempuan, tetapi siapa yang sempat dan mampu ia akan mengerjakan. Yang penting bisakah mereka bekerja sebagai sebuah tim dalam keluarga. Keadaan ini dapat dilihat dari pungkusan (nama panggilan) yang diberikan kepada mereka yang sudah mempunyai anak, misalnya Men Warni dan Pan Warni (bila nama anak pertama mereka adalah Wayan Warni) tanpa memandang apakah ia anak laki-laki atau perempuan. Di dalam keluarga tidak lagi membicarakan apakah ia laki-laki atau perempuan, tetapi mereka adalah seorang ibu dan seorang bapak dari anak-anak yang mereka lahirkan.

- Lalu bagaimana pandangan ibu atas perkembangan emansipasi sekarang, Sudahkah mengalami kemajuan atau malah mengalami kemunduran?

Tergantung dari sudut mana kita memandangnya. Kalau dinilai dari pandangan emansipasi Barat, tentu apa yang terjadi dimasyarakat Bali Hindu belum maju. Tetapi kalau memandang dari pandangan masyarakat Bali Hindu yang mengartikan emansipasi adalah keseimbangan dan keharmonisan fungsi antara laki-laki dan perempuan, maka kondisi perempuan Bali Hindu bertambah mundur. Mereka mengutamakan kepentingan individu sebagai perempuan. Hanya menuntut persamaan hak dan kewajiban.

- Bagaimana semestinya perempuan menyikapi emansipasi tersebut?

Saya yang dibesarkan oleh budaya Bali, tentu berharap perempuan Bali jangan sampai kebablasan, melupakan budaya yang membesarkan, melupakan nilai-nilai yang ditanamkan leluhur Bali. Saya berharap maukah perempuan Bali memahami apa yang diberikan oleh para leluhur Bali sebelum mengatakan itu tidak baik, tidak cocok, dan lain-lain kecaman. Benarkah budaya Bali Hindu tidak memahami emansipasi? Setelah memahami dari sudut budaya Hindu Bali, barulah kita memahami apa yang ada diluar bali. Tentu kita akan meniru apa yang dilakukan oleh leluhur untuk menjadikan lebih sempurna, yakni mempertahankan apa yang dimiliki sebagai identitas diri dan mengambil apa-apa yang dianggap baik disesuaikan dengan waktu, tempat, dan keadaan. Emansipasi yang ada diluar bali akan menjadi keunikan dari kita.

- Menurut ibu sudahkah ajaran Hindu memberi ruang yang sama kepada kaum wanitanya

Ajaran Hindu membedakan peran laki-laki atau perempuan, bila dilihat dalam cerita Ramayana dan Mahabarata. Bagaimana Dewi Kunti dihormati oleh putra-putranya, bagaimana srikandi turun ke medan perang dan Shita membuktikan keagungan cintanya pada Rama. Yang banyak menonjolkan fungsi mereka

- Kalau begitu setujukah anda atas pernyataan bahwa perempuan hanya dijadikan obyek laki-laki?
Saya tidak setuju... Kalau mau berfikir obyektif dan mau melihat dari segi positifnya, budaya Bali adalah budaya yang luar biasa hebatnya. Menghargai dan menempatkan perempuan sebagai kaum yang kuat yang bisa sejajar dengan kaum laki-laki. Mari kita lihat dalam upacara agama, apakah ada yang menempatkan seorang pendeta/pedanda istri lebih rendah atau bodoh dibandingkan dengan Pedanda Lanang (laki-laki)? Seorang bisa menjadi pedanda kalau suami istri siap menjadi pedanda. Demikian pula pada upacara lainnya di pura, perempuan yang didahulukan. Upacara di Pura Samuan Tiga, Perang sampian dimulai dengan keluarnya perempuan-perempuan menari dan kemudian disusul oleh laki-laki. Demikian pula dalam upacara lainnya, Rejang yang ditarikan oleh perempuan disusul dengan tarian dari laki-laki seperti Tari Baris. Kalau perempuan melahirkan, maka selama 1 bulan 7 hari tidak diperkenankan ke dapur, hanya mengurus anak. Budaya Bali memahami perempuan yang habis melahirkan harus menyusui anaknya sepenuhnya dan memberikan kasih sayang. Banyak lagi contoh lainnya. Sekarang tergantung memandangnya, dari budaya bali atau dari nilai budaya Barat atau budaya suku lainnya?

- Apakah yang perlu dilakukan wanita pada khususnya dan seluruh anggota masyarakat agar terwujudnya kesetaraan gender ini?

Jalani ajaran dan nilai-nilai yang telah diberikan oleh leluhur Bali. Pelajari budaya Bali yang berdasarkan agama Hindu dengan seksama. Gunakan pemahaman dengan dasar budaya Bali, bukan budaya luar Bali. Jika bisa memahami, maka anda pasti setuju budaya Bali telah mempraktekkan emansipasi, telah mempraktekkan kesetaraan gender dalam pemahaman seimbang dan harmonis.

- Apa harapan ibu kepada wanita Hindu dimasa mendatang?

Maukah perempuan Bali meningkatkan kemampuan logika dan intuisi bersama-sama, meningkatkan kemampuan komunikasi, meningkatkan semangat juang dan menyeimbangkan kebutuhan spiritual dan material.
Perempuan sebagai individu tetap bisa mengembangkan karier dan mengabdi pada Bali sebagai tanah leluhur. Karier tidak harus si kantor atau perusahaan. Tugas didalam rumah tangga pun bisa sebagai karier yang profesional kalau mau mempelajarinya. Maukah perempuan Bali kembali pada ukuran bahwa keberhasilan perempuan dalam hidup ini dilihat dari keberhasilannya melahirkan anak-anak yang berkualitas, mempunyai keluarga bahagia yang bisa bekerja sebagai sebuah tim bersama suami dan anak-anaknya. Laki-laki adalah partner di rumah tangga dan masyarakat. Tidak ada yang akan menanyakan, “Berapa jumlah rumah yang anda miliki…? Berapa uang yang ada di bank…?” orang akan menanyakan “Bpakah anda sudah menikah…? Berapa anak yang anda miliki…? Apakah anak-anak sudah berkeluarga…? Berapa cucu anda miliki…?, dst.,dst.”

0 Comments:

Post a Comment

<< Home